Halloween party ideas 2015

JAKARTA, GANLOP.COM – Selama masa pandemi, Kesehatan Jiwa pasien Covid-19 dan masyarakat menjadi perhatian Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020, IPK Indonesia dan PDSKJI merilis hasil temuan lapangan dan riset, sekaligus mengantisipasi penanganan potensi masalah psikologis akibat beragam tantangan ke depan yang dirangkum dalam Konperensi Pers Webinar bertajuk “Peran Psikolog Klinis dan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Dalam Mendukung Kesehatan Jiwa Masyarakat Di Masa Pandemi Covid-19”,

Dr. Siti Khalimah, SpKJ, MARS mengatakan, “Sejalan dengan tema Hari Kesehatan Jiwa tahun ini, ‘Mental Health for All, Greater Investment-Greater Access. Everyone, Everywhere’, Indonesia mengangkat Sub Tema Sehat Jiwa di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi COVID-19 Menuju SDM Unggul, Indonesia Maju dengan tujuan untuk meningkatkan komitmen dan kepedulian seluruh komponen masyarakat dalam rangka mewujudkan Masyarakat Indonesia Sehat Jiwa melalui kolaborasi dengan berbagai mitra.”

Mental Health for All mencakup kesehatan jiwa sebagai hak asasi manusia, sehingga semua orang mempunyai hak untuk mendapatkan kesehatan jiwa yang baik, termasuk di masa pandemi Covid-19; Greater Investment mendorong masyarakat untuk terus bergerak, bekerja bersama, berkolaborasi serta berupaya bersama dengan memberikan investasi yang lebih besar untuk kesehatan jiwa; dan Greater Access adalah memastikan akses yang lebih luas dan menyeluruh untuk kesehatan jiwa, cakupan kesehatan universal yang dimulai dari masyarakat dan layanan primer.

Dalam kaitan kolaborasi untuk mengukur kondisi kesehatan jiwa masyarakat selama pandemi Covid-19, Perhimpunan Dokter Spesialis kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Ikatan sikologi Klinis Indonesia (IPK Indonesia) mengadakan penelitian dan mendapatkan temuan dalam melakukan layanan pada masyarakat tentang Gambaran Masalah Psikologis Masyarakat Yang Mengakses Swaperiksa Web PDKSJI dan Gambaran Masalah Psikologis Pada Masyarakat Yang Mengakses Layanan Psikologi Klinis Selama Pandemi Covid-19.

Ketua Umum PDSKJI DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS mengatakan, “Sejak ditemukan kasus Covid-19 pertama kali, PDSKJI segera meluncurkan Swaperiksa Web guna mencegah kepanikan massal dalam suasana batin yang mencekam, sekaligus untuk membantu masyarakat dalam menangani perasaan tidak nyaman,” ujar DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis Indonesia DR. Indria L. Gamayanti, M.Si, Psikolog menyampaikan, “Tim Satgas IPK Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19 telah memberikan layanan penanganan psikologis sejak Maret 2020 hingga sekarang, baik melalui layanan tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan, layanan telekonseling, hingga layanan teks. Selama masa pandemi, IPK Indonesia melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis sesuai masalah yang dikeluhkan masyarakat dan diagnosis yang diberikan sebagai data konkrit untuk mengetahui kondisi kesehatan jiwa dan langkah penanganan psikologis ke depannya.”

Gambaran Masalah Psikologis Masyarakat Yang Mengakses Swaperiksa Web PDSKJI

• Masalah Psikologis: Selama Oktober 2020, jumlah pengisian swaperiksa masyarakat di web PDSKJI berjumlah 5661 buah, berasal dari 31 provinsi dengan temuan 32% mengalami masalah psikologis dan 68% tidak ada masalah psikologis;

• Gejala Cemas: dari 2606 swaperiksa, sebanyak 67.4% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala cemas. Gejala Kecemasan terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun dengan uraian: sebanyak 75,9% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 71,5% pada usia 20-29 tahun; 58,8% pada usia 30-39 tahun; 48,7% pada usia 40-49 tahun; 42% usia 50-59 tahun; dan 47,1% usia >60 tahun.

• Depresi: dari 2294 swaperiksa, sebanyak 67,3% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala depresi, di mana 48% dari responden berpikir lebih baik mati atau ingin melukai diri dengan cara apapun. Pikiran kematian terbanyak pada rentang usia 18-29 tahun.

• Trauma Psikologis: dari 761 swaperiksa, terdapat 74,2% yang mengisi swaperiksa mengalami gejala trauma psikologis. Gejala Trauma Psikologis terbanyak ditemukan pada kelompok usia <30 tahun, dengan keluhan tersering berupa perasaan waspada terus menerus dan merasa sendirian atau terisolasi dengan uraian: 90,6% terjadi pada kategori usia <20 tahun; 73,4% pada usia 20-29 tahun; 76,5% pada usia 30-39 tahun; 55% pada usia 40-49 tahun; 38,9% pada usia >50 tahun.

• Bunuh Diri: dengan 110 swaperiksa, 68% yang mengisi Swaperiksa Bunuh Diri memiliki pemikiran tentang bunuh diri dan 5% di antaranya memiliki rencana matang dan telah mengambil tindakan dari hasil swaperiksa yang mengatakan memiliki pemikiran bunuh diri, 66% belum pernah mendapatkan pengobatan.

DR. Dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ, MARS menegaskan, “Untuk menindaklanjuti tingginya prosentase swaperiksa yang mengalami gangguan, PDSKJI bertekad untuk membuka jangkauan layanan yang lebih luas dengan mendorong para profesional kesehatan jiwa untuk  bergandeng tangan bersama dengan tujuan penemuan dan penalataksaan lebih dini terhadap orang dengan masalah psikologis."

Beberapa program strategis PDSKJI dalam penanggulangan kesehatan jiwa meliputi edukasi tenaga profesional kesehatan jiwa, edukasi masyarakat untuk memeriksakan diri, pendampingan jarak jauh, serta akses pelayanan yang mudah dan aman.

Tim Satgas IPK Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19 dibentuk sejak tanggal 27 Maret 2020, dan sejauh ini beranggotakan 734 psikolog klinis dari seluruh Indonesia. Tim ini melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis selama periode Maret hingga Agustus 2020, sesuai dengan diagnosis masalah, dibagi menjadi tiga periode: Periode 1 (15 Maret – 31 Mei 2020); Periode 2 (1 Juni – 15 Juli 2020); dan Periode 3 (16 Juli - 31 Agustus 2020). Data ini diperoleh dari 194 psikolog di 27 wilayah yang telah memasukkan laporan data layanan.

Adapun data yang diperoleh antara lain sebagai berikut:

Jumlah Penerima Layanan Psikolog Klinis
Layanan oleh psikolog klinis diberikan kepada individu, keluarga, ataupun komunitas, dengan jumlah Klien Individu sebanyak.14619 orang; Klien Keluarga sebanyak 927 keluarga; dan Klien Komunitas sebanyak 191 komunitas.

Gambaran Klien Individu
Sekitar 67,8% dari penerima layanan individual adalah orang dewasa (sebanyak 9428 orang dewasa), klien anak atau remaja sebanyak 4690, sedangkan lansia merupakan kelompok usia yang paling sedikit mengakses layanan oleh psikolog klinis sebanyak 501 orang.

Berdasarkan periode layanan, pada kelompok anak dan remaja, terdapat kenaikan penerima layanan pada setiap periodenya. Sementara di kelompok dewasa, jumlah individu yang mengakses layanan pada awal pandemi lebih banyak dibandingkan periode-periode selanjutnya. Kecenderungan ini juga terlihat pada kelompok lansia.

Prevalensi Masalah Psikologis Tertinggi
Terdapat enam masalah psikologis tertinggi yang ditemukan berdasarkan keluhan dan hasil diagnosis oleh psikolog klinis, yaitu: hambatan terkait dengan masalah belajar, khususnya pada klien anak dan remaja sebesar 27,2%.

Secara umum, masalah psikologis yang secara konsisten banyak ditemukan pada semua kelompok usia adalah keluhan stress umum sebesar 23,9%; keluhan kecemasan sebesar 18,9%; keluhan mood swing (suasana hati yang berubahubah) 9,1%; adanya gangguan kecemasan 8,8%, dan keluhan somatis 4,7%. Masalahmasalah ini jika tidak segera mendapat penanganan dapat berlanjut menjadi gangguan lebih serius.

DR. Indria L. Gamayanti, M.Si, Psikolog menyampaikan, IPK Indonesia siap membantu pemerintah untuk melakukan pendampingan dan layanan pada masyarakat guna mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat Indonesia.

Dalam upaya menanggulangi masalah psikologis tertinggi yang ditemukan pada beragam kelompok usia, IPK Indonesia telah menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak di antaranya dengan Kwartir Nasional Pramuka dengan Program Pelatihan Dukungan Psikologi Awal untuk membantu masyarakat agar mampu melakukan deteksi dini, penanganan keluhan maupun gangguan psikologis pada tingkat awal; dan memahami kapan dan ke mana harus melakukan rujukan. Di sisi lain, IPK Indonesia siap untuk menerima rujukan kasus-kasus yang memerlukan tindakan professional lebih lanjut.

Adapun program pelayanan yang dilakukan oleh Psikolog Klinis di masa pandemi ini, telah dimulai dari tergabung dalam tim kesehatan melakukan penanganan psikologis di Natuna pada WNI yang dievakuasi dari Propinsi Hubei, penanganan di Pulau Sebaru pada ABK kapal Diamond Princess dan Dream World, pelayanan di Wisma Atlet, Pulau Galang, di Rumah-Rumah Sakit Rujukan Covid, Rumah sakit darurat dan RS Lapangan, Shelter, serta memberikan layanan langsung pada masyarakat baik indiivual, kelompok maupun komunitas dengan melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dan lintas profesi.

Layanan dilakukan baik on site / luring maupun on line / daring. Di samping itu, masyarakat juga dapat mengakses layanan psikologi klinis melalui fasilitas online Halodoc dan aplikasi Sehat Jiwa Kemenkes.

Diberdayakan oleh Blogger.