Halloween party ideas 2015


JAKARTA, GANLOP.COM - Anak yang sehat dan memiliki tumbuh kembang optimal diperlukan untuk membentuk fondasi masa depan bangsa yang berkualitas. Namun, infeksi saluran pernapasan akut dan diare menular banyak diderita oleh anak usia di bawah lima tahun dan menjadi  penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia di bawah lima tahun.


Di Indonesia, anak balita (0-5 tahun) merupakan golongan yang paling rawan terhadap bermacam-macam infeksi. Data RISKESDAS 2018 menunjukkan bahwa infeksi dan malnutrisi masih umum ditemui. Infeksi yang umum dialami anak-anak umumnya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gastroenteritis akut (diare). Prevalensi anak usia 1–4 tahun yang mengalami ISPA adalah 13,7% dan diare sebesar 12,8%.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterologi DR. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K) menyatakan bahwa sistem imunitas dibentuk sejak awal kehidupan dan akan berkembang menjadi lebih kuat dan lebih kompleks seiring dengan pertambahan usia anak. Di sinilah peran orang tua untuk memastikan agar perkembangan imunitas optimal. Sistem imun yang terjaga menjadi bekal tubuh anak untuk tumbuh dan berkembang. 


"Penyebab anak rentan terkena gangguan penyakit infeksi  seperti ISPA dan diare salah satunya karena sel-sel usus pada anak masih renggang, mengakibatkan apabila ada kuman atau alergen akan mudah masuk melalui sel-sel tersebut. Selain itu, mikrobioma pada saluran cerna tidak berkembang dengan baik. Bakteri pada mikrobioma memiliki peran terhadap imunitas, nutrisi, dan perlindungan terhadap bakteri patogen. Dalam tubuh manusia terdapat sekitar 10-100 triliun mikrobioma dengan jumlah paling banyak terdapat di usus,” ungkap dr Ariani.

Lebih jauh mengenai mikrobioma, di kesempatan yang sama, Head of Departement of Pediatrics, Vrije Universiteit Brussel, Prof. Yvan Vandenplas, MD, PhD. memaparkan bahwa mikrobioma gastrointestinal (keseimbangan mikrobioma di dalam usus) yang sehat berperan sangat penting untuk mengembangkan sistem imunitas anak sejak dini.


“Mikrobioma merupakan seluruh ekosistem mikroba yang ada di dalam sebuah organ. Mikrobiota usus, bakteri baik bifidobacteria, berperan penting untuk mendukung sistem imun dengan memproduksi antibodi, mengontrol peradangan, mengencangkan sambungan usus dan mendorong toleransi terhadap makanan. Untuk itu, keseimbangan komposisi bakteri baik bifidobacteria harus dipelihara agar dapat terus memberikan manfaat dengan pemberian prebiotik,” papar Prof. Yvan mengenai penelitiannya.

“Lebih spesifik, prebiotik yang merupakan karbohidrat atau serat yang tidak dapat dicerna dan difermentasikan oleh bakteri dalam usus mampu merangsang perkembangan bakteri baik bifidobacteria. Kombinasi prebiotik FOS dan GOS dengan rasio 1:9 dapat meningkatkan jumlah bifidobacteria, menstimulasi pertumbuhan spesies bifidobacteria dan lactobacillus tertentu, mengurangi bakteri patogen, dan membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan.  FOS dan GOS juga mampu membantu mendukung daya tahan tubuh dan mengurangi risiko infeksi. ” ungkap Prof. Yvan.

Lebih lanjut Prof. Yvan  menjelaskan bahwa pada GIANT study yang dilakukan pada 767 anak sehat berusia di atas 1 tahun di 5 negara yang mengonsumsi susu pertumbuhan dengan prebotik lcFOS/scGOS dan n-3 LC PUFA ditambahkan ke dalam susu. Hasilnya adalah infeksi risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi susu sapi.


"Di tengah tantangan kesehatan yang sedang kita hadapi bersama-sama ini, imunitas anak perlu didukung salah satunya dengan pemberian nutrisi yang tepat. Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia melalui Nutriclub berharap dengan adanya kegiatan diskusi ini, lebih banyak orang tua yang mengetahui pentingnya imunitas dan cara mendukung imunitas anak melalui nutrisi agar si Kecil memiliki tumbuh kembang optimal. Para orang tua bisa mendapatkan informasi seputar nutrisi, stimulasi, tumbuh kembang dan ilmu parenting lainnya dengan mengunjungi www.nutriclub.id,” tutup Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia.


Diberdayakan oleh Blogger.