Halloween party ideas 2015


JAKARTA, GANLOP.COM - Kasus peningkatan COVID-19 di Indonesia masih tercatat tinggi setiap harinya. Meskipun pemerintah telah mengambil keputusan untuk menetapkan “New Normal”, sehingga larangan-larangan perkumpulan masa telah diperbolehkan, tetap perlu ada pertimbangan dari masyarakat mengingat karakter transmisi virus ini.


Selain itu, dengan terjadinya pandemi, banyak dampak yang dirasakan baik secara mikro maupun makro pada aspek perekonomian, sehingga keputusan finansial di masa ini menjadi sangatlah krusial.
Melihat kondisi ini, Bintaro Jaya High Rise (BJHR), brand gabungan condominium milik PT Jaya Real Property Tbk melihat diperlukan adanya edukasi untuk masyarakat yang sedang dilanda dilema akan keputusan melaksanakan resepsi pernikahan dan perencanaan keuangan di masa pandemi.

Oleh sebab itu, BJHR mengakomodir sesi bincang virtual dengan menggandeng Financial Planner dari ZAP Finance Prita Ghozie dan figur pasangan muda sukes di Tanah Air Ayudia C dan Ditto Percussion, untuk dapat memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya manajemen keuangan di masa pandemi.

“Tentu saja sejak terjadinya pandemi, banyak penyesuaian di kehidupan kami, meskipun sudah bisa serba virtual, tetap saja ada beberapa proyek yang belum bisa jalan, ada dampaknya sih terhadap keuangan”, ujar Ayudia.

“Tentunya, penting sekali memikirkan pengeluaran dan memiliki perencanaan keuangan yang strategis di masa ini, sebagai keluarga muda, kita harus mulai bisa mengesampingkan pengeluaran yang tidak primer apalagi di masa pandemi yang belum tahu berakhir hingga kapan”, tambah Ditto Percussion.

Prita Ghozie, CEO & Principal Consultant @zapfinance mengatakan, “Masa pandemi ini menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa sangat diperlukan adanya sikap kritis dan bijaksana dalam perencanaan pembiayaan, karena akan ada tragedi yang akan berdampak pada perekonomian yang tidak diduga, sehingga kita harus selalu siap secara finansial”.

“Mungkin pandemi ini justru menjadi momen untuk kita semua berefleksi bahwa sebenarnya perencanaan resepsi pernikahan tidak perlu memakan biaya besar, apalagi sampai berhutang hanya untuk pesta satu hari, ini yang harus diperhatikan dengan baik”.

Prita kemudian menjabarkan perhitungan perencanaan pembiayaan resepsi yang ideal dan tidak termasuk kategori pemborosan, “Sebuah pesta pernikahan dikatakan pemborosan ketika setelah menikah tidak ada dana darurat, jumlah biayanya sudah melebihi bujet yang sudah dikumpulkan sebelumnya, bahkan sampai berutang. Dan akibatnya apa? Keuangan saat memulai pernikahan menjadi berantakan. Solusinya tentu saja sadar dengan kemampuan diri sendiri. Who are we fooling? Buat apa membuat pesta mewah, demi harga diri kalau akhirnya kita tidak bisa memenuhi berbagai kebutuhan keluarga termasuk punya rumah? @zapfinance juga kerap mengedukasi audiensnya melalui platform Instagram dan YouTube terutama untuk pasangan muda, agar mengatur biaya  pernikahan sehingga bisa mencapai berbagai tujuan keuangan di masa depan. Dana darurat, dana rumah, dan dana investasi untuk masa depan adalah 3 hal utama”

Sebagai contoh, biaya pernikahan mewah yaitu mengundang 50 tamu dengan budget Rp75 juta. Artinya, jika baru mempersiapkan dana Rp50 juta, maka bayangkan selisih uangnya harus ditutup dengan utang.

Ayudia dan Ditto menjelaskan bahwa semenjak berkeluarga, mereka belajar bahwa di masa muda dan memulai pernikahan sangatlah penting untuk berinvestasi, Ayudia dan Ditto memilih untuk berinvestasi di properti, seperti apa yang juga sudah mereka tayangkan dalam konten YouTube-nya.

“Kita juga memiliki platform YouTube yang menjelaskan tentang pentingnya memiliki investasi, dan penyesalan bahwa kita dari dulu tidak langsung membeli properti, tapi malah fokus di spending lain”, tambah Ayudia.

“Seperti apa yang sudah dikatakan Ayudia dan Ditto, betul, investasi menjadi salah satu pilihan bijaksana yang bisa kita lakukan untuk mengalokasikan dana resepsi pernikahan. Pernikahan bisa dilakukan dengan akad sederhana saja dihadiri keluarga, kemudian dana pesta-nya, bisa dialokasikan ke investasi, seperti properti misalnya”, tambah Prita.

Ternyata, masa pandemi ini justru menjadi momen emas untuk membeli properti, karena harganya yang cenderung stagnan karena adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi, “Biasanya, memasuki semester 2, harga properti sudah melonjak jauh, tapi karena pandemi harga cenderung stabil, selain itu, banyak promosi yang diberikan oleh developer dan juga bank”, ujar Arum Prasasti General Manager Bintaro Jaya High Rise.

BJHR melihat saat ini tidak ada urgensi untuk melakukan pemborosan dan pelaksanaan acara massal, menimbang kasus positif COVID-19 yang jumlah hariannya masih meningkat dan juga kepastian kapan berakhirnya pandemi ini, sehingga sikap berjagajaga masih sangat perlu diperhatikan.
“BJHR ini adalah gabungan 5 produk condominium milik JRP, kami memiliki produk yang bervariasi, dan tentunya menyesuaikan kebutuhan konsumen yang berbeda-beda, range harganya juga beragam”, ujar Arum.

“Properti saya rasa menjadi alat investasi yang tepat saat ini karena harganya yang saat ini masih stagnan, dan diprediksi akan melonjak di tahun 2021, karena tren properti memang selalu naik dari tahun ke tahun”, tutup Arum pada sesi bincang virtual tersebut.

Apartemen Emerald Bintaro, Bintaro Plaza Residences, The Accent, Silk Town dan CORE Cipete merupakan produk dari BJHR. Di tengah pandemi ini, BJHR memiliki penawaran spesial khusus untuk konsumen, diantaranya adalah subsidi DP, angsuran mulai dari 1 jutaan, free service charge, free furnished, diskon s/d 20%, hingga cash keras angsur 20 tahun. Untuk informasi lengkapnya, silahkan kunjungi https://www.bintarojayahighrise.com.

Diberdayakan oleh Blogger.